Selasa, 29 Mei 2012

PERKEMBANGAN JIWA KEAGAMAAN REMAJA

I.       PENDAHULUAN
Masa remaja adalah masa yang seolah-olah tidak memiliki tempat yang jelas, ia tidak termasuk golongan anak juga tidak termasuk golongan dewasa. Karena remaja belumlah mampu menguasai fungsi fisik maupun psikisnya, oleh karena itu masa remaja biasa kita dengar sebagai masa transisi atau masa peralihan.
Pada sejarahnya posisi remaja berada dalam tempat marginal (Lewin, 1939). Karena untuk dikatakan dewasa membutuhkan banyak persyaratan yang harus dipenuhi untuk bisa dikategorikann dewasa, sehingga remaja lebih mudah dekategorikan sebagai anak daripada dewasa. Kemudian pada abad ke-18 barulah masa remaja dipandang sebagai periode tertentu yang lepas dari periode kanak-kanak. Batasan usia remaja  berkisar antara usia 12-21 tahun, dengan perincian 12-15 tahun msa remaja awal, 15-18 tahun remaja pertengahan, 18-21 tahun masa remaja ahir. [1]
Dalam usia remaja ia pun memiliki kebutuhan yang sama seperti kebutuhan manusia pada umumnya seperti makan, minum, pakaian atau kenikmatan lainnya. Akan tetapi kebutuhan manusia  tidak terbatas pada hal tersebut saja melainkan manusia memiliki keinginan dan kebutuhan yang bersifat universal yaitu kebutuhan untuk mencintai dan dicintai Tuhan, sehingga agama akan dijadikan saraana untukn pemenuhan kebutuhan tersebut. Oleh karena itu dalam makalah ini akan kami bahas terkait tentang bagaimana perkembangan keagamaan ramaja.
II.    RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimanakah Teori Tentang Sumber kejiwaan Agama?
2.      Bagaimanakah Perkembangan jiwa keagamaan pada remaja?

III. PEMBAHASAN
A.     Teori Tentang Sumber Kejiwaan Agama
Terdapat beberapa teori yang bisa dijadikan acuan dari manakah apakah yang menjadi sumber keagamaan itu.  Di antaranya  adalah:
1.      Teori monistik
Teori ini menyatakan bahwa  yang menjadi sumber kejiwaan agama adalah satu sumber kejiwaan. Dari munculah beberapa pendapat yang dikemu-kakan oleh para ahli yaitu:
a.       Thomas Van Aquino. Menurutnya sumber kejiwaan agama adalah berpikir.
b.      Fredrick Hegel. Ia berpendapat  agama adalah pengetahuan yang sungguh-sungguh benar dan tempat kebenaran abadi berdasarkan hal orak tingkah klaku dengan pikiran.
c.       Fredrick Schleimacher. Ia berpendapat bahwa suber keagamaan adalah rasa ketergantungan yang mutlak  (sense of depend)ز[2]
d.      Rudolft Otto. Menurut tokoh ini sumber kejiwaan agama adalahseeseorang  rasa kagum yang berasala dari  The Wholly Other  (yang sama seakali lain).
e.       Sigmund Freud. Menurutnya libido sexuil adalah unsur kejiwaaan yang menjadi sumber kejiwaan aagama. Dan berdasarkan libido ini timbullah ide tentang ketuhanan dan upacara keagamaan setelah melalui proses Oedipoes Complex and Father Image.[3]
f.        William Mac Dougall. Menurutnnya sumber kejiwaan agama  merupakan kumpulan  dari beberapa instink.
            1.2. Teori Fakulti
Teori ini berpendapat bahwa tingkah laku manusia iitu tidak bersumber pada suatu faktor yang tunggal  tetapi terdiri atas beberapa unsur, antara lain yang diianggap memegang peranan penting adalah fungsi cipta (reason), rasa (emotion), karsa (will).
1.      Cipta, cipta merupakan fungsi intelaktual jiwa manusia. Cipta berperan untuk menentukan benar atau tidaknya ajaran suatu agama berdasarkan pertimbangan intelek seseorang.
2.       Rasa, rasa adalah suatu tenaga dalam diri manusia yang banyak berperan dalam membentuk motivasi dalam corak tingkah laku seserorang. Rasa menimbulkan sikap batin yang seimbang dan positif dalam menghayati kebenaran ajaran agama.
3.      Karsa, karsa merupakan fungsi eksekutif dalam diri manusia. Karsa berfungsi mendorong pelaksanaan doktrin serta ajaran agama berdasarkan fungsi kejiwaan[4].
Beberapa Pemuka Teori Fakulti Yaitu:
a.       G.M. Straton
G.M. Straton mengemukakan teori konflik. Ia mengatakan, bahwa yang menjadi sumber keagamaan dalam diri manusia adalah karena adanya konflik dalam kejiiwaan manusia.
b.      Zakiah Daradjat
Zakiyah daradjat mengatakan bahwa pada diri manusia itu terdapat kebutuhan pokok. Unsur-unsur kebutuhan  yang dikemukakan yaitu:
1.      Kebutuhan rasa akan kasih sayang.
2.      Kebutuhan akan rasa aman.
3.      Kebutuhan rasa akan harga diri.
4.      Kebutuhan akan rasa bebas.
5.      Kebutuhan akan rasa sukses.
6.      Kebutuhan rasa ingin tahu atau mengenal.
Selanjutnya dari gabungan keenam itulah yang menyebabkan manusia  membutuhkan agama, karena melalui agama itulah kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat tersalurkan.
c.       W.H. Thomas
Menurut W.H. Thomas yang menjadi sumber kejiwaan agama adalah adanya empat macamkeinginan dasar yang ada dalam jiwa manusia yaitu:
1.      Keinginan untuk keselamatan (security)
2.      Keinginan untuk mendapat penghargaan (rekongnation)
3.      Keinginan untuk ditanggapi (response)
4.      Keingiinan akan pengetahuan atau pengalaman baru (new experient)

B.       Perkembangan Jiwa Keagamaan Remaja
                 Sejalan dengan perkembangan jasmani dan rohani remaja, maka agama pada para remaja dipengaruhi oleh masa Juvenilitas, pubertas, dan nubilitas. Maksudnya penghayatan para remaja terhadap ajaran agam dan tindak keagamaan yang tampak pada para remaja banyak berkaitan dengan faktor perkembangan tersebut. Perkembangan agama pada para remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan rohani dan jasmaninya. Perkembangan itu antara lain menurut W.Starbuck adalah:
a.     Pertumbuhan Pikiran dan Mental
                 Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis terhadap ajaran agam mulai timbul. Selain masalah agama merkapun sudah tertrik dari masalah kebudayaan, sosial, ekonomi, dan norma-norma kehidupan lainnya.
            Dalam penelitian Allport, Gillesphy, dan young menyatakan bahwa agama yang ajarannya bersifat lebih konservativ lebih banyak ber pengaruh bagi para remaja untuk tetap taat kepada ajaran agamanya. Namun sebaliknya agama yang ajarannya kurang konservatif-dogmatis dan agak liberal akan nudah merangsang pemiikiran pengembangan pikiran dan mental para remaja sehingga mereka banyak meninggalkan agamanya[5].
b.    Perkembangan Perasaan
            Berbagai perasaan telah berkembang pada masa remaja. Perasaan sosial, etis,  dan estesis mendorong remaja untuk menghayati perikehidupan yang terbiasa dalam lingkungannya. Masa remaja adalah masa kematangan seksual , yang didorong oleh perasaan ingin tahu dan perasaan super, dan remaja adalah masa-masa yang mudah untuk mesuk dan terjerumus ke arah  tindakan seksual yang negatif.
            Dalam penyelidikan yan dilakukan oleh Dr. Kinsey pada tahun 1950anmengungkapkan bahwa 90% dari pemuda Amerika telah mengenal masturbasi, onani, dan homo seksual.
c.     Pertimbangan Sosial
            Corak keagamaan para remaja juga ditandai oleh adanya pertimbangan sosial. Dalam kehidupan keagamaan mereka timbul konflik antara pertimbangan moral dan material. Karena kehidupan duniawi lebih dipengaruhi akan kepentingan materi, maka para remaja cenderung sifatnya matrealistis.
            Hasil penyelidikan Ernest Harms terhadap 1789 remaja Amerika antara usia 18-29 tahun menunjukan bahwa 70% pemikiran remaja ditujukan bagi kepentingan keuangan, kesejahteraan, kebahagiaan, kehormatan diri dan masalah kesenangan pribadi lainnya. Sedangkan masalah masalah akhirat dan keagamaan hanya sekitar 3,6%, dan masalah sosial 5,8%[6].
d.    Perkembangan Moral
            Perkembangan moral para remaja bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mencari proteksi. Tipe moral yang juga terlihat pada para remaja juga mencakupi:
1.    Self-diretive, taat terhadap agama atau moral berdasarkan pertimbangan pribadi.
2.    Adaptive, mengikuti situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik.
3.    Submissive, merasakan adanya keraguan terhadap ajaran moral dan agama
4.    Unnajusted, belom mmeyakini akan keberadaan ajaran agama dan moral.
5.    Deviant, menolak dasar dan hukum keagamaan serta tatanan moral keagamaan.
e.     Sikap dan Minat
            Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaan boleh dikatakan sangat kecil dan hal ini tergantung dari kebiasaan masa kecil serta lingkungan agama yang mempengaruhi mereka (besar kecil minatnya). Sebagian besar remaja lebih berminat terhadap masalah ekonomi, keuangan, kesuksesan untuk dirinya. Dibandingkan minat mereka terhadap masalah ideal, keagamaan dan sosial.


f.      Ibadah
            Pandangan para remaja terhadap ajaran agama (ibadah), mereka hanya mengnggap ibadah adalah sebuah media untuk bermeditasi dan sedikit remaja yang mengatakan bahwasanya ibadah adalah alat untuk berkomunikasi terhadap tuhan. Hal tersebut terbukti karena lebih banyaknya remaja yang tidak melaksanakan ibadah dibandingkan remaja yang melaksanakan ibadah secara benar.

IV.  KESIMPULAN
      Dari pemaparan materi yang kami susun maka dapat disimpulkan bahwa manusia memiliki kebutuhan universal untuk dipenuhi melalui agama. Dan apakah yang menjadi sumber kejiwaan agam tersebut adalah satu sumber kejiwaan dan juga bisa dilihat dari beberapa unsur yang bukan merupakan satu faktor tunggal, diantaranya yaitu cipta, rasa, karsa manusia itu sendiri. Kemudian perkembangan agama pada remaja ditandai oleh beberapa faktor yaitu :
1.      Pertumbuhan fikiran dan mental
2.      Perkembangan perasaan
3.      Pertimbangan sosial
4.      Pertkembangan moral
5.      Sikap dan minat
6.      Ibadah
Kemudian tingkat dan keyakinan dan ketaatan para remaja sebenarnya tergantung dari kemampuan mereka menyelesaikan keraguan dan konfli batiun yang terjadi dalam diri. 
V.     PENUTUP
        Demikianlah makalah ini kami susun, kami sadar dalam makalah ini masih banyak keslahan dan kekurangan dari segi materi maupun penyampaian. Untuk itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangatlah kamu harapkan guna perbaikan makalah kami selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
H. Thoulsen, Robert. Pengantar Psikologi Agama, Jakarta: CV Rajawali, 1992
Prof. Dr. H. Jalaludin. PSIKOLOGI AGAMA, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002
Prof. Dr. Rahyu, Siti Haditono. Psikologi Perkembangan, Yogyakarta: GAJAH MADA UNIVERSITY PRESS, 2006
Rakhamat, Jalaludi. Psikologi Agama Sebuah Pengantar,Bandung: PT Mizan Pustaka, 2003



[1] Prof.  Dr. F. J. Siti  Rahayu  Haditono. Psikologi Perkembangan. Yogyakarta. Gajah Mada University Press. 2006. Hal, 288
[2]Prof. Dr. H Jalaludin, Psikologi Agama. Jakarta: PT Grafindo Persada 2003 . Hal:54
[3] Ibid. Dr. H. Jalaludin. Hal, 55
[4] Ibid, hal:58
[5] Ibid, hal:74
[6] Ibid, Hal: 76

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar