Selasa, 29 Mei 2012

Prasangka Sosial

 
I.        PENDAHULUAN
Dalam kehidupan bermasyarakat tentu tidak dapat dipisahka dari interaksi social yaitu ; suatu hubungan timbale balik antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kellompok. Dalam hubungan tersebut tekadang terdapat kekurangpahaman antarasatu sama lain baik dari individu maupun kelompok. Sehingga muncul persepsi masing-masing yang ahirnya akan menimbulkan prasangka masing-masing.
 Berbagai teori-teori tentang prasangka telah dikemukakan oleh para ahli. Adanya prasangka antara satu sama lain pihak Sangatlah menghawatirkan, karena prasangka cenderung mengarah pada tindakan yang negatif seperti tindakan-tidakan diskriminasi  yang dilakukan oleh pihak yang  berprasangka kepada pihak yang diprasangkai tersebut. Adanya prasangka akan cenderung membawa dampak negative terhadap perkembangan kehidupan dalam masyarakat, untuk itu sangat dibutuhkan cara-cara yang efektif agar prasangka dapat diatasi. Sehingga perkembangan kemajuan dalam segenap lapisan dalam masyarakat tidak terhambat  adanya prasangka-prasangka yang ada.
 Karena pentingnya pemahaman tentang prasangka, maka dalam makalah ini penulis berusaha menyajikan  materi-materi penting tentang prasangka yang telah kami rangkum sebagai berikut.

II.      RUMUSAN MASALAH
A.      Apa itu prasangka?
B.      Bagaimanakah teori tentang prasangka?
C.      Ciri Pribadi Orang Berprasangka?
D.      Bagaimanakah Usaha untuk Mengatasi Prasangka?

III.    PEMBAHASAN
A.      Pengertian prasangka
Prasangka merupakan evaluasi kelompok atau seseorang yang mendasarkan diri pada keanggotaan dimana seorang tersebut menjadi anggotanya, prasangka merupakan evaluasi negative terhadap  outgroup.[1] Prasangka sosial merupakan sikap perasaan orang-orang terhadap golongan manusia tertentu, golongan , ras, atau kebudayaan yang berlainan dengan golongan orang yang berprasangka itu. Prasangka sosial yang terdiri dari attitude-attitude  social yang negative terhadap golongan lain, dan mempengaruhi tingkah lakunya terhadap golongan manusia lain tadi.
Awal mulanya prasangka hanya berupa sikap-sikap perasaan negative tetapi lambat laun akan dinyatakan dalam bentuk tindakan yang diskriminatif terhadap orang yang diprasangkai itu tanpa alasan yang objektif pada orang yang dikenai tindakan-tindakan yang diskriminatif.[2]
Prasangka sangat berkaitan dengan persepsi seseorang atau kelompok lain, dan sikap serta perilakunya terhadap mereka. Prasangka terhadap anggota suatu kelompok ternyata sangat merusak. Sebuah contoh mengenai prasangka sosial ialah attitude orang Jermanterhadap keturunan orang-orang Yahudi di Negaranya yang sudah lama terdapat di masyarakat masyarakat Jerman. Satu contoh lagi seperti di Amerika Serikat, di sana terdapat prasangka social terhadap golongan Negro atau golongan kulit hitam terutama di Amerika bagian selatan. Dari prasangka social tersebut keduanya sama-sama melahirkan tindakan-tindakan diskriminatif terhadap masing-masing pihak yang diprasangkai. Bahwasanya tindakan-tindakan diskriminatif yang berdasarkan prasangka social akan merugikan masyarakat  Negara itu sendiri, Sebab perkembangan  potensi-potensi manusia masyarakat tersebut akan sangat diperhambat.[3]
B.      Teori-teori tentang prasangka
1. Teori belajar sosial
Teori belajar sosial merupakan salah satu teori dalam belajar, teori ini dikemukakan oleh bandura yang berpendapat bahwa belajar itu terjadi melalui model atau contoh. Prasangka seperti halnya sikap, merupakan hal yang terbentuk melalui proses belajar.[4]
Attitude-attitude yang dimiliki manusia tidaklah dibawa sejak ia dilahirkan. Tetapi bermacam attitude itu dipelajari dan terbentuk pada manusia selama perkembangannya. Awalnya anak-anak kecil tidak mempunyai attude-attitude, kemudian mereka memperoehnya untuk yang pertama melalui primary group yaitu orang tua dan keluarganya. Demikian pula dengan prasangka social, Prasangka social juga tidak dibawa manusia sejak manusia dilahirkan. Prasangka social juga terbentuk selama perkembangan manusia, baik dari didikan atau pun dengan cara identifikasi dengan orang lain yang sudah berprasangka.[5]
Teori belajar social memandang  prasangka sebagai sesuatu yang dipelajari dengan cara yang  sama, seperti bila orang mempelajari  nilai-nilai social yang lain; prasangka disebarluaskan dari orang yang satu ke orang yang lain  sebagai bagian dari sejumlah norma.  Prasangka merupakan norma dalam budaya atau sub budaya seseorang. Prasangka diperoleh seorang anak melalui sosialisasi. Anak mempelajari sikap berprasangka untuk dapat diterima oleh orang lain. Terakhir,  penyebar luasan dan pengungkapan prasangka  yang terus-menerus akan memperkuat peranannya sebagai norma budaya ( Ashmore & Delboca, 1980)[6]
2.       Teori Motivasional atau Decision Making Theory
Teori ini memandang prasangka sebagai sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan individu atau elompok untuk mencapai kesejahteraan (satisfy). Teori ini mencakup beberapa teori yaitu;
a.       Pendekatan psikodinamika
Teori ini menganalisis prasangka sebagai suatu usaha untuk mengatasi tekanan motivasi  yang ada dalam diri individu yang bersangkutan. Jadi teori ini menekankan pada dinamika dari pribadi individu yang bersangkutan (specific individual personality).[7]
b.      Konflik Kelompok Realitas (Realistic group conflict)
Konflik kelompok realitas. Teoeri ini menyatakan bahwa dua kelompok bersaing merebutkan kelompok yang langka, mereka akan saling mengancam, dan akhirnya menimbulkan permusuhan diantara mereka sehingga menciptakan nilai negative yang bersifat timbal balik.[8]
Konflik antar kelompok akan terjadi apabila kelompok-kelompok tersebut dalam keadaan berkompetisi. Ini menyebabkan  adanya permusuhan antara kedua kelompok tersebut yang kemudian bermuara pada adanya saling berprasangka satu dengan yang lain, saling memberikan evalauasi yang negatif. Dengan demikian, prasangka tidak dapat dihindarkan sebagai akibat adanya konflik yang nyata antara kelompok yang satu dengan yang lain.[9]
c.       Kekurangan Relatif (relative deprivation)
 Teori ini berkaitan dengan ketidakpuasan yang tidak hanya timbul dari kekurangan objektif , tetapi juga dari perasaan kurang secara subjektif yang relative lebih besar dibandingkan orang lain atau kelompok lain.[10]
Dalam konflik kelompok yang nyata, prasangka timbul sebagai respons terhadap frustasi yang riil dalam kehidupan antara kelompok satu dengan yang lain. Tetapi kadang-kadang orang mempersepsi diri sendiri atau mereka mengalami kerugian secara relatif terhadap pihak lain, walaupun dalam kenyataanya tidak demikian. Persepsi ini dapat membawa permusuhan antara kelompok yang satu dengan yang lain, dan sebagai akibatnya yaitu dapat menimbulkan prasangka. 
3.       Teori Kognitif
Dalam teori ini, proses kognitif dijadikan sebagai dasar timbulnya prasangka. Hal ini berkaitan dengan;
a.       Kategorisasi atau penggolongan
Apabila seseorang mempersepsi orang lain atau apabila suatu kelompok mempesepsi keompok lain, dan memasukkan apa yang di persepsikan itu ke dalam suatu kategori tertentu. Proses kategorisasi berdampak timbulnya prasangka antar pihak satu dengan pihak lain, keompok satu denga kelompok lain.
b.      Ingroup lawan Outgroup
Ingroup dan  outgroup ada apabila  kategorisasi “kita” dan “mereka”  telah ada, seseorang dalam suatu kelompok akan merasa dirinya sebagai ingroup dan orang lain sebagai outgroup. Dalam kategori ingroup memiliki dampak tertentu yang ditimbulkan, di antaranya yaitu;
                                                                                     1.      Similarity effect, anggota ingroup mempersepsi anggota ingroup yang lain lebih memiliki kesamaan apabila dibandingkan dengan anggota outgroup.
                                                                                     2.      Favoritism effect, karena kategorisasi ingroup dan outgroup maka berdampak munculnya anggapan bahwa ingroup lebih favorit dari pada outgroup.
                                                                                     3.      Outgroup homogenity effect, bahwa seseorang dalam ingroup memandang outgroup lebih homogendaripada ingroup, baik dalam hal kepribadian maupun hal yag lain.[11]
3.       Usaha Mengatasi Prasangka
Langkah-langkah yang bisa dilakukukan untuk mengatasi prasangka sehingga prasangka tersebut dapat berkurang atau bahkan bisa dihilangkan, caranya sebagai berikut;
1.       Dengan cara mengadakan direct intergroup contact, seperti yang dikemukakan oleh  Allport yang dikenal dengan teori kontak (contact theory). Kontak atau hubungan secara langsung secara berkesinambungan atau berkelanjutan akan mengurangi prasangka yang ada.
2.       Dengan cara mengadakan kerja sama atau cooperative interdependence, Anggota suatu kelompok yang berprasangka  terhadap kelompok lain,  diadakan kerja untuk mencapai  tujuan bersama, mereka saling bergantung satu dengan yang lain untuk mencapai tujuan bersama tersebut, dengan demikian mereka saling berinteraksi satu sama lain. Sehingga mereka tahu dengan tepat keadaan  sebenarnya satu sama lain kelompok. Sebenarnya prasangka timbulkarena kurang adanya informasi yang jelas, deengan mengetahi keadaan yang sebenarnya maka prasangka yang ada akan dapat berkurang atau bahkan sampai hilang. [12]
4.       Ciri Pribadi Orang Berprasangka
Menurut beberapa penyelidikan psikologi, terdapat beberapa ciri  pribadi orang yang mempermudah bertahannya prasangka social padanya, antara lain orang-orang yang berciri sebagai berikut;
a.        tidak toeransi
b.       kurang mengenal aka dirinnya sendiri
c.        kurang berdaya cipta
d.       merasa tidak aman
e.        memupuk khayalan-khayalan yang agresif[13]
IV.    KESIMPULAN
Dari pembahasan materi di atas, maka dapat kami simpulkan bahwa prasangka mrupakan hasil evaluasi seseorang atau keompok terhadap seseorang atau kelompok. Adanya prasangka social lebih berdampak kearah negatif seperti tindakan-tindakan diskriminasi y ang jelas-jelas merugikan salah satu pihak. Ada beberapa teori tentang prasangka yang telah dikemukakan, diantaranya yaitu;
1.       Teori belajar social
2.       Teori Motivasional atau Decision Making Theory
3.       Teori Kognitif
Untuk megatasi adanya prasangka maka usaha yang bias digunakan ada dua cara sehingga prasangka bias  berkurang bahkan menghilangkan prasangka sosial, caranya yaitu; Dengan cara mengadakan direct intergroup contact dan mengadakan cooperative interdependence
Adapun ciri-ciri pribadi berprasangka atau mempertahankan prasangka dalam dirinya, di antaranya yaitu; tidak toeransi, kurang mengenal aka dirinnya sendiri, kurang berdaya cipta, merasa tidak aman, memupuk khayalan-khayalan yang agresif[14]

V.      PENUTUP
Demikianlah makalah yang telah kami susun. Kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca sekalian. Kami sadar bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam makalah kami, baik dari penulisan maupun materi yang kami sampaikan. Untuk itu, kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sekalian sangat kami harapkan guna perbaikan makalah kami selanjutnya. 




[1] Bimo Walgito, Psikologi Sosial, (Yogyakarta, Cv. Andi Ofset, 2003), Hal. 95
[2] W.A. Gerungan, Psikologi Sosial, (Bandung, Refika Aditama, 2002), Hal. 166
[3] Ibid, Hal. 168
[4] Bimo Walgito,Op. Cit, Hal. 96
                [5]DR. W.A. Gerungan, Op. Cit, Hal. 173
[6] David O. Sears. Dkk, Psikologi Sosial, (Jakarta, Erlangga, 1994), Hal. 158
[7]Bimo Walgito, Op. Cit, Hal. 98 
[8] David. O. Sears, Op, Cit. Hal. 155
[9] Bimo walgito, Op. Cit, Hal.
[10] David. O. Sears, Op. Cit, Hal. 156
[11] Bimo Walgito, Op. Cit,  Hal. 100
[12] Bimo Walgito, Op. Cit, Hal. 98
[13] DR. W.A. Gerungan, Op. Cit, Hal. 176
[14] DR. W.A. Gerungan, Op. Cit, Hal. 176

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar